Oleh: Nurhawa Ibrahim, Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pohuwato
HistoriPos.com, Pohuwato — Penjara hari ini penuh oleh politisi, penguasa daerah, dan pengurus partai politik. Realitas kelam ini menjadi alarm keras bahwa politik lokal kita sedang mengidap penyakit serius yang membutuhkan bedah analisis secara intensif dan solutif.
Akar masalah politik lokal selalu bermuara pada satu hal: relasi kekuasaan. Desentralisasi dan otonomi daerah (otoda) lahir untuk memotong dominasi pusat yang membuat daerah miskin kekuasaan. Padahal, kekuasaan adalah motor utama pemberdayaan potensi daerah. Namun, kekuasaan saja tidak cukup. Ia butuh ditopang oleh modal—baik material, kultural, sosial, maupun simbolik. Ketika pusat melimpahkan kekuasaan tanpa kesiapan modal daerah yang matang untuk mengelolanya, yang terjadi adalah bencana penyelewengan kekuasaan yang berujung pada penindasan masyarakat.
Ironisnya, otoda yang menjadi amanah reformasi untuk menghapus dinasti politik dan oligarki, kini justru menampilkan wajah paradoks. Desentralisasi malah melahirkan “raja-raja kecil” di daerah. Politik dinasti tidak mati; ia justru menguat dan mengakar, baik dalam birokrasi kedaerahan maupun internal partai politik.
Ini adalah pekerjaan rumah besar bagi generasi kita. Untuk menghentikan penyimpangan ini, kita harus bergerak melakukan revitalisasi pemaknaan politik lokal. Otonomi daerah harus dikembalikan khittahnya dengan menjadikan karakteristik dan kedaulatan lokal sebagai basis utama pembangunan, bukan sebagai ladang jarahan elite baru.



















