HistoriPos.com, Pohuwato — Menjelang peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day, tensi perjuangan rakyat penambang di Kabupaten Pohuwato semakin menguat. Ketua Karang Taruna Kabupaten Pohuwato, Abdul Karim Pakaya, secara resmi menyatakan sikap tegas untuk berdiri di barisan masyarakat guna memperjuangkan keadilan ruang kelola pertambangan.
Pria yang akrab disapa Ucen ini menegaskan bahwa Karang Taruna tidak akan menjadi penonton dalam polemik yang mengancam hajat hidup orang banyak. Ia memastikan akan berkolaborasi dengan barisan BARA API dalam aksi demonstrasi mendatang.
Dalam keterangannya, Ucen menekankan bahwa kehadiran Karang Taruna adalah sebagai pengawal keadilan bagi masyarakat kecil. Ia menggarisbawahi bahwa pihaknya mendukung kemajuan daerah, namun dengan catatan investasi yang masuk tidak boleh bersifat diskriminatif.
“Prinsipnya kami Karang Taruna tidak anti investasi. Tapi investasi yang pro rakyat, yang menyelesaikan masalah tanpa diskriminasi. Kami ingin investasi yang sama-sama menguntungkan. Rakyat untung, mereka (perusahaan) juga untung,” tegas Ucen.
Lebih lanjut, Ucen menyoroti ketergantungan ekonomi masyarakat Pohuwato pada sektor pertambangan rakyat. Baginya, menutup akses masyarakat terhadap wilayah tambang sama saja dengan menghancurkan kesejahteraan warga dan memicu monopoli ekonomi yang merugikan.
“Banyak rakyat penambang yang menggantungkan hidup di situ. Kalau mereka tidak berikan ruang untuk mengelola, apa lagi yang menjadi mata pencaharian mereka? Jujur saja, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Pohuwato tumbuh subur karena hasil produksi masyarakat penambang itu sendiri,” tambahnya.
Sebagai bentuk dedikasi organisasi terhadap masyarakat, Karang Taruna Kabupaten Pohuwato memastikan akan mengabdikan diri sepenuhnya dalam pengawalan aspirasi ini. Kesiapan untuk turun ke lapangan menjadi bukti nyata bahwa Karang Taruna memposisikan diri sebagai mitra kritis pemerintah dan pelindung hak-hak sipil.
“Kalau untuk aksi, kami siap untuk bergabung,” pungkas Ucen dengan nada optimis.
Langkah ini diprediksi akan memperkuat massa aksi dalam peringatan May Day di Pohuwato, sekaligus menjadi sinyal bagi para pemangku kepentingan agar lebih serius dalam menata regulasi pertambangan yang berpihak pada rakyat kecil. (Rh)

















