HistoriPos.com, Pohuwato — Kasus penganiayaan yang melibatkan warga Desa Botubilotahu, Kecamatan Marisa, kini memasuki babak akhir di tingkat kepolisian. Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Pohuwato resmi melayangkan surat panggilan kepada tersangka berinisial FH alias Uci untuk menjalani proses pelimpahan tahap II ke Kejaksaan Negeri Pohuwato.
Berdasarkan Surat Panggilan Tersangka Nomor: S.Pgl/Tsk.2/90.7/IV/RES.1.6./2026/Reskrim, tersangka diminta hadir menemui penyidik pembantu di Ruang Unit II Tipidkor Polres Pohuwato pada Senin, 6 April 2026, pukul 07.30 WITA.
Perkara ini berawal dari laporan yang dilayangkan oleh saudara Rizaldi Saputra Latif terkait insiden yang terjadi pada Selasa, 12 Agustus 2025 silam, sekitar pukul 02.00 WITA di Desa Botubilotahu.
Setelah melalui proses penyidikan panjang sejak September 2025, Kejaksaan Negeri Pohuwato akhirnya menyatakan berkas perkara FH alias Uci telah lengkap (P-21). Hal ini sebagaimana tertuang dalam surat nomor B-582/P.5.14/Eoh.1/02/2026 tertanggal 25 Februari 2026.
Tersangka dijerat dengan Pasal 466 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP, subsider Pasal 466 ayat (1) pada undang-undang yang sama. Langkah pemanggilan ini merupakan prosedur hukum wajib guna menyerahkan tanggung jawab tersangka beserta barang bukti ke pihak Kejaksaan agar perkara dapat segera disidangkan.
Kakak almarhum Rezaldi Latif, Yulyaningsih Husain, menyampaikan harapannya agar proses hukum ini berjalan tanpa hambatan lagi. Mengingat kasus ini telah memakan waktu yang cukup lama, pihak keluarga sangat mendambakan titik terang.
“Kami berharap kasus ini bisa cepat terselesaikan. Kami selaku keluarga almarhum sangat mengharapkan keadilan dan kepastian hukum yang seadil-adilnya,” ungkap Yulyaningsih, Jumat (03/04/2026).
Sementara itu, Kuasa Hukum korban Hendrik Mahmud menegaskan, bahwa pihaknya akan terus mengawal proses ini hingga disidangkan di Pengadilan, Hendrik Mahmud mengapresiasi kinerja penyidik yang telah merampungkan berkas perkara terseb
ut.
“Kami mengapresiasi langkah tegas Satreskrim Polres Pohuwato dalam menindaklanjuti status P-21 dari Kejaksaan. Panggilan ini adalah momentum krusial bagi penegakan hukum. Kami meminta tersangka untuk kooperatif dan menghargai proses hukum yang berlaku. Fokus kami adalah memastikan hak-hak klien kami terpenuhi dan pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal sesuai dengan UU KUHP yang baru,” ujar Hendrik. (Rh)
















